Rapuh

•6 Februari 2009 • Tinggalkan sebuah Komentar

Dalam Belakangan ini saya sedang belajar dari putri saya yang baru lahir, Banyak hal yang bisa kita pelajari dari bayi, bayi adalah sosok yang unik mereka tidak berdaya tetapi memiliki daya tarik yang luar biasa, selalu bisa membuat orang jatuh hati ketika menatap dan bersentuhan denganya. Dari bayi mungil ini saya mendapat beberapa hikmah yang menurut saya makin luntur pada saat kita semakin bertumbuh seiring waktu yang berjalan.

Bayi adalah manusia, yang merupakan bibit dari generasi manusia yang akan datang, bayi itu rapuh, seperti manusia yang sebenarnya adalah rapuh, tidak perduli dia pejabat, Pengemis, Ulama, Supir bis, pekerja kantor atau siapa pun, wala terkadang kita tampak begitu tegar, pada dasarnya manusia memiliki titik rapuhnya masing-masing. apakah seorang pejabat itu kuat, atau seorang pemuka agama itu tegar, mungkin sekilah terlihat seperti itu, tapi mereka hanya manusia biasa yang juga memiliki titik rapuh, karena mereka adalah manusia biasa.

Di balik manusia tangguh, biasanya ada banyak manusia rapuh. Dihadapkan pada masalah sepele saja mereka goyah. Lihatlah, ada yang hanya putus cinta, ia bunuh diri. Atau hanya karena tidak disapa tetangga, ia panas dingin dan sakit hati. Maka, mulai sekarang kita harus memiliki keberanian untuk mengevaluasi diri. Apakah kita itu bermental tangguh atau sebaliknya?
Ketangguhan hakiki tidak dilihat dari fisiknya (walau ini penting), tapi dilihat dari mental dan kepribadian. serta keimanan seseirang. Manusia paling tangguh adalah manusia yang paling takwa dan kuat imannya. Boleh jadi tubuh kita lemah, rapuh, bahkan lumpuh, tapi kalau ia memiliki ketangguhan iman, maka kelemahan fisik akan tertutupi.

Orang yang kuat mental dan kepribadian. serta keimanan, salah satu cirinya adalah tangguh menghadapi cobaan hidup. Kesulitan apapun yang menderanya, tidak sedikit pun ia menyerah, malah semakin dekat. Ada lima prinsip yang senantiasa dipegangnya. Pertama, sadar bahwa kesulitan adalah episode yang harus dijalani. Sehingga ia akan menghadapinya sepenuh hati; tidak ada kamus mundur atau menghindar. Kedua, yakin bahwa setiap kesulitan sudah tepat ukurannya bagi setiap orang. Ketiga, yakin bahwa ada banyak hikmah di balik kesulitan. Keempat, yakin bahwa setiap ujian pasti ada ujungnya. Kelima, yakin bahwa setiap kesulitan yang disikapi dengan cara terbaik akan mengangkat derajatnya di hadapan Allah. Ada sesuatu yang besar di balik kesulitan yang menghadang. Semakin berat ujian, semakin luar biasa pula ganjaran yang akan diterima.

Kita mungkin juga termaksud saya Nampak utuh dari luar, namun terkadang rapuh di dalam. Tal selalu yang tampak di luar selaras dengan apa yang ada di dalam. Manusia memang lazim memakai topeng. Mungkin itulah sebabnya kata personality alias kepribadian itu berasal dari suatu kata dalam Bahasa Yunani yang berarti topeng. Topeng yang kita gunakan ketika kita bersentuhan dengan individu-individu lain di dunia kita masing-masing. Topeng yang menggambarkan seperti apa kita ingin dipandang, untuk menutupi rapuhnya diri kita.

Mencari contoh penggunaan topeng itu bukanlah pekerjaan sulit. Banyak kejadian-kejadian ringan di keseharian yang dapat dijadikan cermin. Seorang bawahan bisa saja tersenyum dan mengangguk ketika atasannya mengeluarkan suatu kebijakan yang sebenarnya tidak sesuai dengan nuraninya karena takut kehilangan pekerjaan. Seorang pemuda ketika ditanya oleh kekasihnya, Aku sekarang gemuk ya? dapat jadi memilih berkata Ah, nggak kok. Kamu cantik kok, demi menyenangkan hati pacarnya itu. Masih banyak hal-hal lain yang dapat mencontohkan ketidaksesuaian antara yang terpendam di hati dan yang nampak di luar. Sebaliknya
melepas topeng bukanlah hal yang mudah. Butuh keberanian yang luar biasa untuk menampakkan sisi terapuh dalam diri kita, karena hal itu menunjukan kerapuhan pada diri kita.

Beranikah anda membuka topeng dan menampakkan siapa sebenarnya diri anda, atau anda akan terus terjebak dalam manipulasi kerapuhan diri anda dengan terus menggunakan topeng atau mengganti topeng lagi sesuai dengan keadaan. seperti belajar dari bayi kecil yang tidak menggunakan topeng, dan menampakan keluguaan dan keasrianya sehingga menimbulkan kedamaian dalam hidup… tapi semua berpulang kepada anda sendiri yang mana yang anda pilih membuka topeng kepribadian palsu atau menunjukan identitas anda seburuk apapun, sebaik apapun, dan melakukan perubahan pada diri sendiri menuju kebaikan bukan mengganti topeng secara instan..

Kamu rapuh
Umpama ranting di bawah pohon
Yang kering dan sering terinjak
Kamu rapuh
Bagaikan daun kering coklat yang kering dan tua
Menggemburkan tanah
Tapi kamu begitu kuat
Seperti angin yang sanggup meruntuhkan menara
Menggerus bebatuan hingga mengerikil
Karena kamu
Hanyalah manusia
Yang biasa saja
Mampu menangis dan tertawa
Mampu menjadi setan atau lebih mulia dari malaikat
Dan karena kerapuhan dan kekuatanmu itulah
Dan karena engkau manusia biasa
Yang tak punya daya apa pun selain dari-Nya
Bukankah duniapun mengerti
Alampun sadari
Nuranipun akui
Aku dan dirimu
Hanya manusia rapuh
Diantara kerlip jutaan bintang
Diantara desah nafas jutaan nyawa
Diantara birunya laut dan merahnya matahari
Diantara tawa dan tangis
Ya, kau dan diriku
Sebab kamu
Juga aku
Hanyalah manusia biasa.

Best Regard
Erwin Arianto,SE
erwinarianto@gmail.com

Instal Cinta Kasih

•4 Februari 2009 • Tinggalkan sebuah Komentar

Customer Services (CS): Ya, Ada yang bisa saya bantu?
Pelanggan (P): Baik, setelah saya pertimbangkan, saya ingin menginstal cinta kasih Bisakah anda memandu saya menyelesaikan prosesnya?
CS: Ya, saya dapat membantu anda. Anda siap melakukannya?
P: Baik, saya tidak mengerti secara teknis, tetapi saya siap untuk menginstalnya sekarang. Apa yang harus saya lakukan dahulu?
CS: langkah pertama adalah membuka HATI anda. Tahukan anda dimana HATI anda?
P: Ya, tapi ada banyak program yang sedang aktif. Apakah saya tetap bisa menginstalnya sementara program-program tersebut aktif?
CS: Program apa saja yang sedang aktif?
P: Sebentar, saya liat dulu, program yang sedang aktif adalah SAKITHATI.EXE, MINDER.EXE, DENDAM.EXE DAN BENCI.COM
CS: Tidak apa-apa CINTA-KASIH akan menghapus SAKITHATI.EXE dari system operasi anda. Program tersebut akan tetap ada dalam memori anda, tetapi tidak lama karena akan tertimpa program lain. CINTA-KASIH akan menimpa MINDER.EXE dengan modul yang disebut PERCAYADIRI.EXE. Tetapi anda harus mematikan BENCI.COM dan DENDAM.EXE. Program tersebut akan menyebabkan CINTA-KASIH tidak terinstal secara sempurna. Dapatkah anda mematikannya?
P: Saya tidak tau mematikannya. Dapatkah anda memandu saya?
CS: Dengan senang hati. Gunakan start menu dan aktifkan MEMAFKAN.EXE. Aktifkan program ini sesering mungkin sampai BENCI.COM dan DENDAM.EXE terhapus.
P: Ok, sudah. CINTA-KASIH mulai terinstal secara otomatis. Apakah ini wajar?
CS: Ya, anda akan menerima pesan bahwa CINTA-KASIH akan terus di instal kembali dalam HATI anda. Apakah anda melihat pesan tersebut?
P: Ya. Apakah sudah selesai terinstal?
CS: Ya, Tapi ingat bahwa anda hanya punya program dasarnya saja. Anda perlu mulai menghubungkan HATI yang lain agar untuk mengupgradenya.
P: Oops. Saya mendapat pesan error. Apa yang harus saya lakukan?
CS: Apa pesannya?
P: Error 412- “PROGRAM NOT RUN ON INTERNAL COMPONENT”
Apa artinya?
CS: Jangan kuatir, itu masalah biasa. Artinya program CINTA-KASIH diset untuk aktif di HATI eksternal tetapi belum bisa aktif dalam HATI internal anda. Ini adalah salah satu kerumitan pemprograman, tetapi dalam istilah non-teknis ini anda harus men “CINTA-KASIH”-i anda sendiri sebelum men
“CINTA-KASIH”-i orang lain
P: Lalu apa yang harus saya lakukan?
CS: Dapatkan anda klik pulldown direktori yang disebut “PASRAH”?
P: Ya, sudah
CS: Bagus. Pilih file-file berikut dan salin ke direktori “MY HEART”
MEMAAFKAN-DIRI-SENDIRI.DOC, dan MENYADARI-KEKURANGAN.TXT
sistem ini akan menimpa file-file konflik dan mulai memperbaiki program-program yang salah. Anda juga perlu mengosongkan Recycle Bin untuk memastikan program-program yang salah tidak muncul kembali.
P: Sudah. Hei! HATI saya terisi file-file baru. SENYUM.MPG aktif di monitor saya dan menandakan bahwa DAMAI.EXE dan KEPUASAN.COM di copi ke HATI.
Apakah ini wajar?
CS: Kadang-kadang. Orang lain mungkin perlu waktu untuk mendownloadnya. Jadi CINTA-KASIH telah terinstal dan aktif. Anda harus bisa menanganinya dari sini ada satu lagi hal yang penting.
P: Apa?
CS: CINTA-KASIH adalah freeware. Pastikan untuk memberikannya kepada orang lain yang anda temui. Mereka akan share ke orang lain dan seterusnya sampai anda akan menerimanya kembali.

MANFAAT DARI ORGANISASI YANG FOKUS KEPADA PELANGGAN

• DIFFERENSIASI DARI PERUSAHAAN LAIN/KOMPETITOR
• MENINGKATKAN IMAGE DI MATA PELANGGAN
• MEMINIMALKAN SENSITIVITAS HARGA
• MENINGKATKAN PROFIT
• MENINGKATKAN KEPUASAN DAN LOYALITAS PELANGGAN
• MENINGKATKAN REPUTASI PERUSAHAAN
• MENINGKATKAN KUALITAS PRODUK/JASA YANG DITAWARKAN
• MENINGKATKAN MORAL DAN PERILAKU PARA KARYAWAN
• MENINGKATKAN PRODUKTIFITAS
• MENURUNKAN BIAYA
• MENJAGA AKTIVITAS CONTINUOUS IMPROVEMENT TETAP BERJALAN DIPERUSAHAAN
• …………..

8 KARAKTERISTIK DARI PERUSAHAAN KELAS DUNIA (TOM PETERS)

• FLAT ORGANIZATION
• DECENTRALIZATION
• PRODUCT/SERVICE DIFFERENTIATION
• QUALITY FIRST *
• SERVICE EXCELENCE *
• SENSITIVE & RESPONSIVE
• INNOVATIVE IN PRODUCT/SERVICE DEVELOPMENT
• KNOWLEDGE & SKILLED EMPLOYEE *
*) COMPETITIVE EDGE FOR THE 21ST CENTURY

Menikah Dulu, Baru Pacaran

•4 Februari 2009 • Tinggalkan sebuah Komentar

Masa lalu kita adalah sejarah yang tidak bisa kita ubah. Tetapi, jangan sampai kita terkukung oleh masa lalu kita hingga merasa tidak mungkin berubah.

***

Assalaamu’alaikum wa rahmatullahi wa barakaatuh!

Sebelumnya aku ucapkan terima kasih banyak atas waktu dan perkenannya untuk membaca tulisan ini. Semoga kau selalu dalam keadaan sehat dan berada dalam lindungan-Nya. Amin.

Sebagai renungan, mengutip dari apa yang pernah kau tulis sendiri untukku beberapa waktu lalu:

“Masa depan yang cerah berdasarkan pada masa lalu yang telah dilupakan. Kau tidak dapat melangkah dengan baik dalam kehidupanmu sampai kau melupakan kegagalan dan rasa sakit hatimu.”

“Ketika satu pintu kebahagiaan tertutup, pintu yang lain dibukakan. Akan tetapi, seringkali kita terpaku terlalu lama pada pintu yang tertutup itu sehingga tidak melihat pintu lain yang dibukakan untuk kita”.

Harapan-harapan masa laluku kepadamu dan janji-janji kita dulu untuk mencapai pernikahan, ternyata hanyalah sebatas impian. Allah Maha Mengetahui yang terbaik untuk hamba-Nya. Biarlah itu semua menjadi kenangan dalam hidupku.

Sejujurnya aku akui, begitu banyak kenanganku bersamamu. File-file dan foto-fotomu di notebook dan PC-ku.

Satu minggu sejak pengakuanmu yang menyatakan bahwa kau mencintai wanita lain. Sejak itu pula, aku merasa kehilangan kendali. Aku terpuruk sekali. Tidak pernah terbayangkan kata-kata itu terucap dari orang yang sangat aku cintai dan sangat aku percayai. Tidak mungkin! Tapi itulah kenyataannya.

“Pergiliran roda kehidupan kadang tidak bisa ditolak. Hadapi kenyataan dan berserah diri kepada-Nya adalah jalan terbaik.”

Aku coba merenungi apa yang pernah dikatakan oleh pimpinan Wisata Hati itu. Memang tidak gampang menerima kenyataan. Tapi kalau aku pikirkan dengan lebih mendalam, diterima atau tidak suatu kejadian buruk, ia sudah terjadi dan kita tidak bisa memutar ulang waktu. Apalagi yang bisa kita lakukan selain mengembalikan semua kejadian kepada Sang Penguasa setiap kejadian itu sendiri? Lalui saja dengan ikhlas. Betapapun beratnya penderitaan dan peliknya sebuah persoalan, pasti ia akan berujung. Dan hal itulah yang coba aku lakukan saat itu.

Alhamdulillah, dengan satu keyakinan akan janji-Nya, di antaranya dalam Q.S. Al-Furqan [25] : 68-70.

“Dan orang-orang yang tidak menyembah tuhan yang lain beserta Allah dan tidak membunuh jiwa yang diharamkan Allah (membunuhnya) kecuali dengan (alasan) yang benar, dan tidak berzina; barang siapa yang melakukan demikian itu, niscaya dia mendapat (pembalasan) dosa (nya), (yakni) akan dilipatgandakan azab untuknya pada hari kiamat dan dia akan kekal dalam azab itu, dalam keadaan terhina, kecuali orang-orang yang bertaubat, beriman dan mengerjakan amal shaleh; maka kejahatan mereka diganti Allah dengan kebajikan. Dan adalah Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.”

Dan seiring berjalannya waktu, cobaan dan ujian hati yang aku alami, perjalanan Ramadhan, hikmah-hikmah yang indah, dan pengalaman yang kudapat semakin membuat hatiku lebih mengerti akan arti kehidupan ini.

Bersikap ikhlas dan sabar akan membuat segala kekurangan tidak akan menyesakkan dada lagi. Masa lalu kita adalah sejarah yang tidak bisa kita ubah. Tetapi, jangan sampai kita terkukung oleh masa lalu kita hingga merasa tidak mungkin berubah.

Apa yang aku alami di masa lalu adalah satu tamparan pedih. Namun, sesungguhnya di balik itu semua sangat berarti untuk jiwa ini. Disadarkan akan arti cinta sejati. Cinta sebelum menikah adalah cinta semu yang tidak perlu disakralkan dan diagung-agungkan!

Innaa lillahi wa innaa ilayhi rooji’uun. Alhamdulillah, Dia masih memberikan hidayah-Nya dengan cara seperti ini.

Insya Allah, aku akan segera meyempurnakan separuh agama. Seorang laki-laki shaleh yang akan aku cintai sepenuh hati. Seorang yang mencurahkan ketulusan kasih sayangnya, mau menerima diriku seutuhnya, dan siap hidup berjuang bersama dijalan-Nya dalam suka dan duka.

Aku tidak tahu siapa dia. Jika waktunya telah tiba nanti, semuanya akan terang benderang. Anugerah terindah itu pasti akan datang.

Sesungguhnya tiada sesuatu yang lebih indah di dunia ini selain jalinan persaudaraan. Aku ingin jalinan persaudaraan di antara kita dan keluarga yang sudah terbangun selama ini tetap ada, terlepas status dari hubungan kita sekarang. Forget it!

Aku masih tetap mencintaimu. Tapi cinta sesama saudara seiman. Hanya sebatas itu. Kau tidak usah bersikap antipati terhadapku. Kau tidak usah khawatir. Aku hanya ingin komunikasi di antara kita dan keluarga tetap baik. Aku tetap menjalin komunikasi denganmu bukan berarti aku ingin kondisi hubungan kita seperti dulu lagi. Mohon hal ini untuk dipahami. Wallahu a’lam kalau ternyata Allah mentakdirkanmu sebagai jodohku kelak.

Di tulisan ini, aku menggantikan panggilan “Adik” dengan kata ganti “Aku” dan tidak memanggilmu dengan sebutan “Aa” lagi. Semata untuk menjaga hatiku dan hati perempuan yang kau cintai kini.

Once again, aku menginginkan hubungan baik kita terjalin lagi, sama seperti hubungan baikku dengan beberapa teman alumni satu kampus kita dulu yang masih tetap terjalin indah. Teman-teman yang pernah aku kenal dan semua orang yang pernah menyakiti dan membenciku. Aku hanya ingin tetap menjalin silaturahim. Bukankah menjaga silaturahim itu salah satu tiket masuk surga?

Mohon maaf atas segala salah dan khilaf. Semoga Allah masih terus berkenan memberikan hidayah dan rahmat-Nya. Dan ampunan-Nya kepada kita semua. Amin.

Wassalaamu’alaykum wa rahmatullahi wa barakaatuh!

Ditulis ulang dari kisah nyata yang diceritakan oleh seorang Sahabat.

http://setta81.multiply.com/

Citra, Iklan, Perempuan

•1 Februari 2009 • Tinggalkan sebuah Komentar

Tak dapat dimungkiri bahwa dewasa ini pasar telah mengalami ekspansi yang sangat signifikan hingga menyentuh aspek-aspek paling privat dari kehidupan manusia. Dari segi formal, hal itu merupakan implikasi langsung dari globalisasi yang telah menjadi bagian tak terpisahkan dari peri kehidupan hampir seluruh masyarakat modern. Globalisasi adalah bentuk perluasan pasar dalam arti material, yakni sebagai akibat langsung dari ekspansi budaya industrial yang dapat disentuh, dicerna dan ditelan secara langsung maupun tidak langsung ketika alasan-alasan paling mendasar untuk menolaknya kian kehilangan dasar-dasar logisnya.

Dan dalam konteks ini, ada tiga hal yang patut dicatat. Pertama, sebagai konsekuensi langsung dari ekspansi pasar par excellence, dalam proses penyebarannya, globalisasi cenderung mencairkan batas-batas ruang dan waktu.Globalisasi telah menghilangkan, atau sekurang-kurangnya mengaburkan batas-batas tradisional dari negara, budaya, komunitas, sistem sosial, bahkan juga batas-batas etnik. Kedua, berlangsungnya arus lalu lintas barang, benda-benda dan produk teknonogi yang semakin mudah dan cepat serta yang ketiga adalah arus keluar masuk informasi, pemikiran, ide-ide, nilai-nilai dan ideologi-ideologi yang tak kalah cepatnya pula.

Mencairnya batas-batas negara, sistem sosial dan batas-batas etnik, minimal telah menimbulkan dua implikasi, yakni, pertama, semakin terbukanya kemungkinan arus keluar masuk orang-orang dari dan ke berbagai wilayah budaya sehingga proses pembentukan identitas individu pun juga semakin meluas dan lentur. Kedua, dari arah yang bertolak belakang, muncul individu atau sekelompok orang yang mencoba menolak globalisasi dengan mengambil sikap resisten, meski pada akhirnya akan mengidap ambivalensi dan abiguitas identitas dalam derajat tertentu. Di beberapa tempat muncul sikap-sikap anti-globalisasi dalam berbagai varian dengan dasar-dasar evidensial yang bermacam-macam beserta bentuk-bentuk keterbelahan kepribadian yang berbeda-beda pula.

Semakin cepatnya arus lalu lintas barang-barang akan mempermudah proses konsumerisasi dan semakin cepatnya arus keluar masuk informasi, pemikiran, ide-ide, dan ideologi, juga akan membentuk tatanan baru atas pola pikir dan “sistem pengetahuan” setiap individu yang terlibat seiring dengan perubahan yang terjadi pada berbagai sistem nilai yang dianut secara tradisional. Pada titik tertentu, proses meluasnya konsumsi ide-ide dan nilai-nilai yang disediakan oleh pasar juga membuka kemungkinan bagi setiap orang untuk melakukan rekonstruksi secara lebih bebas terhadap identitas budaya yang dimilikinya. Budaya konsumer yang semakin meluas telah membuka berbagai kemungkinan bagi setiap individu untuk memilih acuan yang semakin banyak guna menyusun identitas sosialnya.

Dalam masyarakat tradisional individu cenderung tidak memiliki banyak pilihan guna merumuskan identitasnya serta cenderung sukar membebaskan diri dari belenggu nilai-nilai normatif yang hidup dalam lingkungan sosio-kultural dan sosio-religius yang dianut secara doktriner. Ketika datang modernitas dan globalisasi acuan nilai dalam masyarakat tradisional tersebut kemudian mengalami pelapukan sehingga simbol-simbol lama secara niscaya perlahan-lahan akan melemah untuk kemudian digantikan oleh simbol-simbol baru yang disediakan oleh pasar budaya global.

Hal lain yang perlu dicatat adalah bahwa berbagai acuan simbol baru yang disediakan oleh pasar global itu sedemikian cairnya sehingga orang dapat melakukan internalisasi dengan cepat dan instan tanpa menimbulkan konsekuensi sosial dan kultural yang keras. Acuan baru itu cenderung bersifat lentur dan lebih mudah diakomodasi sehingga juga lebih mudah keluar masuk ke dalam sistem kesadaran individu yang menyerapnya. Bahkan dalam bentuk yang ekstrim dapat dikatakan bahwa simbol-simbol, ide-ide dan ideologi yang disediakan oleh pasar global statusnya sama dengan benda-benda; suatu saat dapat dikonsumsi dan pada saat yang lain ditolak, suatu saat dapat diambil dan pada saat yang lain dapat dibuang jika dianggap sudah tidak berguna atau tidak relevan dengan kebutuhan. Suatu simbol, sebuah pemikiran atau sepotong ideologi terkadang tak ubahnya seperti sesuatu yang fashionable, yang siap berubah setiap saat.

Namun demikian, simbol-simbol baru itu ternyata juga tidak seluruhnya dapat menggantikan simbol-simbol lama yang telah mengakar dalam kultur tradisional karena selain belum sepenuhnya menjadi bagian inheren dari sejarah sosial yang melingkupi para konsumennya, keberadaannya juga cenderung tersusun dalam bentuk-bentuk legitimasi melalui berbagai pencitraan yang sebelumnya tak pernah ada dalam khasanah budaya tradisional sehingga penyerapan terhadapnya telah menimbulkan situasi ambivalen dan ambigu pula; di satu sisi simbol-simbol baru itu menyediakan ruang yang cair guna melakukan rekonstruksi identitas, menjadi semacam ruang “pembebasan”, di lain pihak, lantaran ruang tersebut begitu cair maka proses rekonstruksi yang berlangsung cenderung labil dan cepat goyah karena tak memiliki akar yang kuat dalam pengalaman sosio-kultur tradisional sehingga ambiguitas dan ambivalensi yang ditimbulkannya cenderung mudah dieliminasi oleh para pelakunya karena sifat simbol-simbol baru yang serba cair dan lentur tersebut. Di sisi lain, benda-benda produk industri sebagai perwujudan paling nyata dari budaya massa dapat diserap oleh para konsumennya dengan mudah karena tidak selalu menuntut proses internalisasi menyeluruh terhadap aspek-aspek tekno-struktur di baliknya. Di desa-desa di pedalaman Indonesia misalnya, orang lebih mudah menerima benda-benda produk teknologi mutakhir ketimbang rasionalitas yang tersembunyi di balik keberadaan produk-produk tersebut. Para petani di pedalaman lebih mudah menerima alat-alat pertanian yang canggih ketimbang menyerap manajemen yang rasional dan sistematis menyangkut pengelolaan dan pengorganisasian pertanian secara modern sebagai bagian inheren dari penggunaan produk-produk teknologi pertanian tersebut.

Artinya, konsumsi simbol-simbol, ide-ide, ideologi dan benda-benda industri dapat dilakukan tanpa harus melakukan penyerapan secara menyeluruh terhadap aspek-aspek rasional di baliknya: menjadi modern bukan selalu berarti upaya “transformasi sikap-mental”, melainkan cukup dengan mengkonsumsi simbol-simbolnya saja. Dengan kata lain, orang lebih mudah memahami modernitas melalui penampakan luarnya ketimbang melakukan internalisasi untuk kemudian mentrasformasikan nilai-nilai di balik rasionalitas yang mendasarinya. Di kota-kota besar di Indonesia simbol-simbol budaya konsumer seperti mal, supermarket, iklan di televisi dan media massa cetak, etalase-etalase dan bentuk-bentuk hiburan serta produk-produk budaya popoler dan budaya massa yang lain terus berkembang, memenuhi seluruh ruangnya dalam gemerlap rayuan (seduction) bersama gumpalan dan gugusan citra.

Media dan Citra
Dalam proses penyebaran konsumsi tersebut, salah satu agen utama dari ekspansi pasar global adalah media (massa), baik cetak, audio maupun audio-visual. Media massa itu sendiri pada akhirnya adalah juga suatu institusi pasar di mana informasi, ide-ide, nilai-nilai, adalah komoditas yang coba didesakkan ke dalam struktur kesadaran para konsumennya. Media massa adalah agen sekaligus produsen khusus yang dapat disebut sebagai pembentuk infrastruktur kedua dari pasar sehingga arus informasi, ide-ide dan nilai-nilai telah mengalami penyebaran yang semakin dahsyat itu dapat memasuki ruang-ruang pribadi setiap orang. Hal tersebut menjadi semakin intensif ketika memasuki era internet dan cybermedia di mana segala bentuk informasi semakin mudah disebarkan dengan kecepatan yang fantastis sehingga media kemudian menjelma menjadi sebuah dunia terbuka, semacam dunia imajiner di mana informasi dengan cepat mereproduksi dirinya menjadi rangkaian wacana yang sambung-menyambung tanpa akhir. Orang menyebut dunia cyber adalah dunia maya tempat segala informasi dapat diakses dan diolah dengan bebas sehingga media telah menjelma ruang imajinatif yang nyaris tanpa batas, baik secara format maupun secara substansial.

Tapi, apakah sesungguhnya media itu? Apakah informasi itu? Apakah fakta itu? Apakah realitas dalam media? Bagaimanakah hubungan antara media massa dengan fakta dan realitas, juga bagaimanakah hubungannya dengan para pelakunya? Bagaimana hubungan media massa dengan struktur kesadaran masyarakat? Tentu, untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan tersebut diperlukan telaah yang komprehensif. Namun, jika hendak menggambarkan secara ringkas dan sedikit “ekstrim”, maka kita dapat bertolak dari anggapan kuno yang mengatakan bahwa media (massa) adalah sekadar wahana untuk menyampaikan, mengusung, memindahkan, mendistribusikan dan “menjual” informasi. Lebih sempit lagi dikatakan bahwa media hanya berfungsi menyimpan dan mendokumentasikan “realitas”.
Artinya, media dipahami sebagai kendaraan yang muatannya berupa fakta dan informasi, sejenis pipa untuk mengalirkan kumpulan atau serangkaian data dan pesan. Memang pada tahun 1960-an Marshall McLuhan sudah menegaskan bahwa media adalah pesan itu sendiri dan bukan sekadar pengantar informasi. Tapi pandangan itu masih belum beranjak dari paradigma yang bertumpu pada dikotomi antara wahana dan pesan, antara “bentuk” dan “isi”. Dalam pemahaman seperti itu media dan informasi, juga pesan, sama-sama dipahami sebagai “kata benda”. Media dimengerti sebagai “medium”, yakni sejenis jembatan yang menghubungkan antara pembuat dan penerima, produsen dan konsumen informasi, dan informasi dipahami sebagai kumpulan atau serangkaian data dan fakta yang diklaim diambil dari “realitas”. Tentu, informasi yang diklaim mewakili “realitas” itu telah mengalami seleksi, klasifikasi, bahkan mungkin juga manipulasi sehingga “realitas” yang diklaim dalam informasi merupakan suatu konstruk “pengetahuan” yang dikendalikan oleh kepentingan para produsen informasi yang juga sangat kompleks, menyangkut variabel-variabel ekonomis, politis, ideologis dan sosio-kultural.

Para produsen informasi, terutama media massa berita, sebagai penganut paradigma di atas, sangat menjunjung tinggi azas “netralitas”; bahwa media musti “objektif”, dan memasukkan unsur subjektif di dalamnya tak ubahnya menebarkan racun pada air informasi yang dialirkannya. Semboyannya adalah “tegakkan jurnalisme faktual”. Dan dalam kasus Indonesia, semenjak zaman kolonial, zaman kemerdekaan, zaman Orde Lama, Orde Baru hingga sekarang, ternyata sangat sedikit media yang benar-benar dapat berpijak pada diktum tersebut. Pada kenyataannya hanya segelintir media yang dapat dikategorikan sebagai jurnalisme faktual. Yang banyak justru jurnalisme “opini”. Dan memang, jika dipraktikkan benar-benar, jurnalisme faktual ternyata sangatlah mahal. Sudah barang tentu, tidak akan pernah ada jurnalisme yang benar-benar murni faktual, juga jurnalisme yang benar-benar murni opini. Yang ada adalah tarik menarik, tawar-menawar, kompromi atau bahkan persenyawaan antara keduanya.

Hal lain yang perlu dicatat adalah, anggapan bahwa media merupakan wahana tempat mengalirkan informasi kini sudah dianggap kedaluwarsa. Media massa ternyata bukan hanya melaporkan realitas melainkan telah menciptakan “realitas baru”. Media bukan hanya pesan itu sendiri, melainkan telah menciptakan pesan baru sebagai wahana bagi konsumen untuk memperoleh pengetahuan terhadap realitas yang kian sulit dijangkau secara langsung. Untuk memperoleh pengetahuan mengenai Osama Bin Laden atau Saddam Hussein misalnya, orang sangat tergantung kepada media yang diserap. Dan lantaran informasi yang diserap itu merupakan hasil seleksi produsen media, maka “realitas” yang diperoleh pun dapat bertentangan dengan “realitas” yang sesungguhnya karena realitas yang diciptakan oleh media sudah mengambil alih “realitas” faktual dari objek berita. Dan setelah “realitas” buatan itu didesakkan secara terus menerus, kapan saja di mana saja, tiap jam, bahkan tiap menit, di tempat kerja, di pasar, di jalanan, di terminal-terminal, di ruang keluarga maupun di kamar mandi, akhirnya diterima sebagai “kebenaran”. Realitas buatan itu menjadi taken for granted, sebagai kebenaran yang dianggap ada dan benar begitu saja.

Maka, media bukan sekadar message, tapi sudah menjadi logos baru. Dan kini, ketika arus gelombang media yang menyapu kian cepat dibantu perkembangan teknologi serta akses yang kian terbuka mendorong datangnya informasi yang bertubi-tubi, maka realitas “buatan” itu juga kian bertumpuk menimbun realitas faktual. Orang tenggelam dalam realitas “buatan” dan tak sempat bersikap kritis atau melakukan refleksi barang sejenak. Sesuatu di luar media menjadi tidak penting. Pengetahuan dan “kebenaran” telah ditentukan oleh media. Semboyannya kemudian adalah “tak ada realitas di luar media”. Logos baru itu pun telah memperoleh legitimasi yang sempurna.

Sudah bukan rahasia lagi, contoh terbaik dari kekuatan logos baru ini adalah media massa Amerika, terutama ketika menciptakan “realitas” mengenai kaum bersurban dan berjenggot (di Timur Tengah) sebagai “orang ekstrim” dan kaum teroris yang musti dan patut dibasmi. Sungguh menakjubkan, siapapun yang menjadi musuh Amerika tiba-tiba menjadi “realitas” bahwa mereka adalah musuh demokrasi dan “kemanusiaan”, sementara Amerika sendiri dapat memelintir “realitas” yang menunjukkan bahwa mereka terlibat persekongkolan di banyak tempat (pada kasus Israel) yang menimbulkan banyak korban orang Palestina. Tapi tak ada yang dapat menghentikan atau mengalahkan logos raksasa itu. Dia sudah menjelma oxymoron yang siap menelan realitas dan kebenaran-kebenaran di sekitarnya. Maka, jika sampai pada titik ini, tak ada lagi fakta tak pula opini. Yang ada adalah “viva media”, hidup adalah media. Media adalah dunia. Logos adalah permainan dalam media.

Sementara itu, realitas datang dan pergi begitu cepat; dunia hari ini bukan berita esok hari. Semuanya begitu gampang dikunyah untuk cepat dilupakan. Di dalam realitas yang mudah lenyap itu terdapat pula timbunan iklan, reklame, yang siap cair dan menguap tanpa jejak. Semua menjadi sejenis permainan realitas belaka. Dan semboyannya adalah “tak ada kebenaran di luar permainan”.

Tentu, gambaran di atas tampak agak ekstrim. Tapi, yang hendak dikatakan dari cerita ekstrim tersebut adalah bahwa di zaman ini terasa betapa semakin tidak relevannya membedakan antara realitas yang “benar-benar”, “kenyataan yang sesungguh-sesungguhnya” dengan realitas sebagai susunan citra ketika media telah menjadi logos baru. Antara citra dan kenyataan semakin sulit dibedakan. Memang, dalam konteks media, kita mula-mula seolah-olah berbicara tentang berita dan peristiwa, tapi ketika semuanya telah begitu hablur, maka batas-batas antara citra dan fakta juga semakin tidak jelas.

Citra dan Makna
Tapi apakah citra atau image itu? Bagaimana dia terbentuk? Bagaimana hubungannya dengan struktur kesadaran orang yang mengonsumsinya? Bagaimana pula hubungannya dengan proses pemaknaan atas kenyataan yang diacunya?
Memang mula-mula citra adalah sebuah elemen dari proses representasi atas kenyataan dengan pengembangan bentuk-bentuk bahasa yang mengandung acuan faktual yang menghasilkan makna baru. Sebuah peristiwa adalah sebuah realitas yang tersusun oleh fakta-fakta. Namun, ketika peristiwa itu dilaporkan oleh surat kabar atau televisi dan kemudian dikonsumsi serta diinterpretasi ulang oleh konsumen, maka kemudian muncul berbagai citra yang lain, secara beruntun, saling terkait atau saling lepas, membentuk potongan, serpihan, serakan dan hubungan makna yang kian meluas dan rumit dan dari jaringan makna yang kian rumit itu kemudian terbentuk sebuah “realitas baru” yang kadang mengandung acuan yang jauh lebih luas ketimbang fakta semula.

Sebungkus rokok misalnya, faktanya adalah sepuluh batang sigaret dengan harga tertentu. Namun, begitu ditampilkan dalam bentuk iklan dalam televisi, dia telah menjadi fakta baru: rokok bukan sekadar fakta melainkan juga penafsiran atas fakta. Di sini, rokok telah menjelma wacana. Dia telah mengalami metamofosis dari sebuah benda menjadi sebuah atau serangkaian makna yang terus berkembang berdasarkan hubungan pemaknaan yang dibuat oleh pemakai wacana. Sementara itu, ketika menerima dan memakai wacana itu, di kepala setiap penonton televisi senantiasa terdapat jaringan makna yang bermacam-macam, tergantung pada struktur memori yang terserap semenjak kanak-kanak yang dapat kita sebut sebagai dunia internal, sedangkan makna yang dibuat oleh iklan adalah dunia eksternal. Dalam aktivitas menonton dan membaca, akan terjadi korespondensi, saling serap, bahkan boleh jadi juga saling tolak antara dunia eksternal dan dunia internal itu. Dari proses tersebut kemudian tercipta respon yang menghasilkan makna baru, saling terkait atau saling lepas dengan makna yang lain, secara beruntun tanpa putus sehingga yang muncul kemudian bukan lagi makna tunggal melainkan berbagai pertautan makna yang dapat berubah-ubah berdasarkan konteks acuan yang berbeda-beda pula.

Proses tersebut kemudian menghasilkan bentuk- bentuk representasi yang multifaset dan multi-interpretable. Rokok yang telah berubah dari fakta menjadi makna itu, pada titik ini telah melangkah lebih jauh, yakni telah menjadi serangkaian timbunan dan jaringan makna yang terus memperluas dirinya. Jaringan tersebut dapat mengacu pada gaya hidup, simbol kejantanan, ikon seksual, imperatif kesuksesan, kebebasan, status sosial, dan seterusnya dan seterusnya. Setelah acuan tersebut terbentuk, maka akan tercipta pula bagian dasar bangunan pencitraan, sebagai fondasi tempat berdirinya struktur makna yang dapat dikembangkan lebih jauh, yakni pencitraan baru (tingkat kedua) yang tidak mengacu pada fakta pertama melainkan pada acuan yang terbentuk oleh citraan (tingkat pertama) di dasar fondasi tersebut. Selanjutnya dapat diciptakan citraan baru lagi yang mengacu pada citraan tingkat kedua tersebut. Begitu seterusnya sehingga fakta pertama (rokok kretek) itu kemudian lenyap dan yang ada hanyalah permainan ulang alik antara berbagai tingkat citraan yang terbentuk secara cair dan tanpa batas. Artinya, pada titik ini fakta (rokok kretek) menjadi tidak penting lagi karena sebagai acuan pemaknaan sama sekali tidak signifikan.

Citra dan Imajinasi
Dari uraian di atas maka dapat dikatakan bahwa iklan adalah sebuah bentuk penampilan-ulang atau representasi fakta menuju citra. Dan telah dikatakan bahwa citra itu kemudian berada para serangkaian “permainan” pencitraan dengan susunan makna yang kadang terlepas sama sekali dari fakta atau bendanya. Dia telah menjadi dunia yang berdiri sendiri. Dan setiap iklan adalah hutan belantara yang dipenuhi pohon-pohon citra sementara realitas adalah sekumpulan perdu yang terus meninggi memenuhi ruang-ruang kesadaran manusia.

Hal lain yang juga turut menyuburkan pertumbuhan bentuk representasi tersebut adalah apa yang kemudian disebut sebagai “imajinasi”. Ketika berada bersama benda-benda, tetumbuhan, hewah dan manusia lain, kita sedang berhadapan dengan fakta, termasuk diri kita. Dan ketika berada dalam bahasa, kita sedang berhadapan dengan abstraksi atau konseptualisasi fakta-fakta karena bahasa mula-mula adalah sebuah upaya penampilan kembali atau representasi dari fakta-fakta.

Secara normal, dalam aturan main bahasa itu kita tidak dapat mengubah-ubah makna seenaknya. Misalnya, kita tak dapat mengubah kata “kursi” menjadi “batu” saat menunjuk “benda” kursi karena jika hal itu dilakukan maka komunkasi akan macet, atau bahkan akan terjadi kekisruhan makna. Artinya, secara alamiah, dalam berkomunikasi kita harus tunduk pada konvensi atau hukum-hukum yang berlaku, termasuk patuh terhadap tata bahasa.

Dengan kata lain, mula-mula bahasa adalah sebuah warisan yang disediakan oleh kebudayaan lengkap dengan segala hukum-hukumnya. Laku komunikasi dalam bahasa adalah ibarat sebuah jerat: dia adalah satu-satunya yang mempertautkan manusia dengan dunianya sehingga segala seuatu menjadi bermakna. Bahasa adalah sebuah wahana untuk membebaskan manusia dari kekosongan makna tapi juga sekaligus juga jejaring penjara yang nyaris mustahil dihindari. Namun, ketika seorang penyair, novelis, pelukis atau pembuat iklan misalnya, mengambil dan mendaya gunakan jejaring bahasa, mengolahnya, kemudian menata kembali ke dalam sebuah struktur baru, maka akan terbuka kemungkinan makna dan pemaknaan yang lain pula. Seringkali pengolahan yang dilakukan oleh para kreator komunikasi itu menghasilkan pemaknaan yang baru dan segar. Contohnya adalah karya seni yang diciptakan oleh para seniman, juga iklan yang diciptakan pembuat iklan.

Faktor utama untuk membuka wilayah pemaknaan lain itu adalah “imajinasi”. Dengan imajinasi, manusia kreator dapat melepaskan diri dari jejaring makna yang telanjur dibekukan oleh hukum-hukum bahasa yang normal. Contoh terbaik bagaimana imajinasi memainkan peranannya adalah pada proses penciptaan karya seni dan produk-produk iklan.

Dengan kata lain, bentuk-bentuk representasi pada karya seni dan iklan, akan menemukan lahan perkembangan yang sangat subur akibat campur tangan imajinasi. Artinya, terdapat kaitan yang kuat antara pertumbuhan citra dengan tingkat imajinasi, baik yang dimiliki si pencipta maupun penerima citra. Kaitan yang kuat antara citra dan imajinasi itu seringkali menghasilkan suatu percampuran yang kadang sukar dibedakan: Citra (mulai sekarang disebut dengan huruf C besar) seringkali menjelma imajinasi itu sendiri, atau sebaliknya, imajinasi menjelma menjadi Citra. Dalam situasi serupa itu iklan menjadi semacam bentuk permainan Citra-Imajinasi, Imajinasi-Citra, yang berlangsung terus-menerus tanpa akhir.

Ada kalanya sebuah Citra diciptakan ulang dengan imajinasi baru, atau sebaliknya, imajinasi diciptakan menjadi Citra baru, untuk kemudian diciptakan lagi menjadi Citra baru, kemudian menjadi imajinasi yang baru lagi, begitu terus, tanpa ujung tanpa pangkal. Maka, kita kemudian bertemu dengan dunia permainan Citra dan imajinasi tanpa batas: sebuah dunia dalam bentuk representasi yang bertingkat-tingkat.

Tapi sebelum melangkah lebih jauh ke dalam dunia yang rumit sebagai suatu jaringan Citra yang berkelindan dengan berbagai bentuk pemaknaan yang diangkut bahasa, ada baiknya kita kembali ke pertanyaan pokok, yakni apa sebenarnya yang disebut karya imajinatif sebagai wahana komunikasi itu? Apa sebenarnya yang terkandung dalam wujud komunikasi dari sebuah karya seni atau sebuah iklan? Bukankah sebuah karya seni atau karya iklan dalam wujud formal pada dasarnya adalah sebuah konstelasi yang terbentuk oleh serangkaian tanda? Tapi apakah yang disebut dengan tanda itu?
Mengacu pada pemikiran semiologi filsuf Amerika yang hidup pada awal abad 20 yang bernama Charles Sanders Peirce, tanda adalah sesuatu yang secara fisik dapat memuat suatu arti atau makna. Secara umum, tanda dapat digolongkan menjadi tiga jenis. Pertama adalah apa yang disebut sebagai ikon, contohnya adalah sebuah peta, atau gambar garpu dan sendok di pinggir jalan yang membuat orang berpikir tentang restoran. Yang kedua adalah indeks, yakni sebuah tanda yang tidak dapat dipahami jika tidak ada tanda lain sehingga untuk memahaminya kita mesti membaca berdasarkan konteksnya. Dan ketiga adalah simbol, yakni sebuah tanda yang hanya dapat dimengerti oleh suatu lingkungan sosial, komunitas atau budaya tertentu sehingga untuk memahaminya dituntut pemahaman latar belakang sosial-budaya tempatnya lahir.

Semua tanda itu biasanya mewujud dalam bahasa verbal (tulis maupun lisan), bahasa gambar, atau suara dan gerak. Karya seni dan iklan sering kali memanfaatkan bahan-bahan ikon, indeks dan simbol dengan cara-cara pengolahan yang dapat disederhanakan menjadi beberapa jenis. Pertama adalah yang menekankan faktor “apa”-nya, yakni karya seni dan iklan yang cenderung mengolah dan mengeksplorasi, segi “objek”-nya. Kedua, yang menekankan segi “subjek” atau “siapanya” yang dapat dibagi menjadi dua, yakni “subjektif” dan “konatif”. Jenis pertama biasanya cenderung menekankan sisi subjek si kreator, sehingga segi penafsiran subjektif tampak meninjol dan bisanya akan menghasilkan bentuk yang memiliki karakter kuat pada segi “ekspresif”. Sebuah karya seni atau iklan menjadi tampak sangat “subjektif” karena menekankan pada “subjektivitas” si pembuat sehingga orang akan menyebut iklan jenis itu sebagai karya subjektif dan individual, lebih terasa sebagai ekspresi si pembuatnya.
Sementara jenis kedua adalah yang menekankan khalayak sasaran yang dituju. Jenis ini biasanya disebut bersifat konatif, yakni karya komunikasi yang menekankan pada “orang yang diajak bicara”. Jika sebuah karya seni atau iklan tampak “menghasut atau memprovokasi”, maka dia dapat disebut sebagai karya yang berciri konatif. Contoh ekstrem karya komunikasi jenis ini adalah bentuk bentuk-bentuk kampanye politik, selebaran gelap, pidato politik yang bersifat agitatif sehingga audiens takjub dan tak sempat menarik nafas sehingga dengan serta merta pula mereka membenarkan apa saja yang dikatakan oleh si komunikator.

Ketiga, adalah jenis komunikasi yang menekankan wahana hubungan antara pembicara dan orang yang diajak bicara dan biasanya bertujuan untuk mendekatkan komunikator dengan yang diajak berkomunikasi. Contohnya adalah pembicaraan dalam radio panggil yang sering muncul kata “rojer, rojer, ganti… gitu”. Dalam komunikasi jenis ini kadang terdapat banyak istilah khusus yang membuat orang jadi dekat. Contoh lain adalah pada saat anda melakukan chatting di internet dimana isi pembicaraan kadang tidak begitu jelas tapi tiba-tiba anda merasa begitu dekat dengan lawan bicara yang tak dikenal sekalipun, atau ketika anda bertemu dengan teman yang sudah bertahun-tahun berpisah dan serta merta anda menjabat tangannya dengan keras, tertawa-tawa, gugup, lalu bicara ke sana kemari meski isi pembicaraan itu tidak penting. Dalam peristiwa komunikasi serupa itu yang dipentingkan bukan isi, objek, esensi dan makna pembicaraan melainkan “kedekatan” di antara orang yang berbicara. Peristiwa komunikasi tersebut dapat disebut sebagai mengandung unsur fatik.

Keempat, apa yang disebut sebagai cara referensial. Contohnya adalah ketika anda berada dalam ruang seminar atau ruang kuliah, anda akan berhadapan dengan bahasa yang berbau ilmiah dan peristiwa komunikasi yang sangat formal. Sebuah karya komunikasi atau iklan yang terasa ilmiah, penuh dengan pemaparan data statistik, hitungan ini, grafik itu, atau kadang-kadang mirip risalah filsafat, maka dia dapat disebut bersifat referensial.

Tentu, sebuah iklan kadang menekankan segi-segi subjektifnya sehingga menjadi cenderung susah dimengerti, dan penonton dibiarkan mencari makna dengan caranya sendiri. Terkadang iklan jadi cerewet dan verbal, terkadang justru simpel tapi sangat kaya makna. Dia dapat menjadi dangkal, ngomong hingga penuh busa, tapi seungguhnya tidak ngomong apa-apa. Ada pula yang sederhana tapi sanggup berbicara lugas tajam dan melekat erat dalam memori audiens. Sebagian ada yang menekankan segi-segi konatif, dan sebagian yang lain menonjolkan segi fatik dan seterusnya dan seterusnya. Terkadang dalam sebuah iklan terdapat semua segi tersebut, tentu dengan komposisi, kombinasi dan intensitas yang berbeda-beda.

Maka, dapat dikatakan bahwa membuat iklan tak ubahnya menyusun kombinasi dan komposisi tanda dengan penekanan karakteristik objektif, ekspresif, konatif, fatik atau referensial tersebut, hingga tercipta apa yang disebut sebagai Citra. Iklan adalah permainan tanda hingga terbentuk berbagai macam Citra dengan berbagai efek kognitifnya.

Citra dan Pemasaran
Sejarah pemasaran dalam industri dan manajemen modern adalah sejarah permainan, pertandingan, dan pertarungan “Citra”. Dan kesadaran tentang pentingnya “Citra” itu kemudian melahirkan berbagai taktik dan strategi pemasaran yang semakin lama semakin canggih dan rumit. Tapi jika salah satu fungsi utama iklan adalah menciptakan “Citra”, apakah tidak mungkin iklan itu sendiri kemudian justru berubah menjadi “Citra”?

Pernah suatu ketika berlaku anggapan bahwa fungsi iklan adalah memberi penjelasan, gambaran dan uraian yang akurat dan rinci mengenai produk yang ditampilkan, yakni semacam keterangan lebih luas mengenai suatu produk, dan jika perlu dapat dijadikan petunjuk praktis yang diperlukan jika hendak memakai atau mengonsumsi produk yang diiklankan. Dengan kata lain, iklan adalah semacam keterangan ringkas yang kurang lebih “objektif”, yang menggambarkan keadaan (fakta) sesungguhnya dari produk yang ditampilkan.

Namun kini (terutama di negara-negara maju) pandangan tersebut nyaris sudah tidak berlaku lagi. Seperti sudah dikatakan di atas, pada zaman yang serba modern (dan post modern), dalam kebudayaan industrial seperti saat ini, Citra ternyata telah menciptakan realitas buatan yang tak kalah kaya ketimbang realitas sebenarnya. Hidup orang modern telah terkepung oleh citra-citra, sekaligus juga Citra tentang Citra. Dan lantaran Citra lebih mudah dikunyah, diraup, dipungut, dibiarkan berlalu atau bahkan ditolak tanpa menimbulkan resiko atau konsekuensi apapun, maka dia akan lebih gampang menerobos ke struktur kesadaran internal individu. Dia telah menjadi bagian yang tak terpisahkan dari kehidupan sehari-hari manusia modern, bahkan telah menjadi kebutuhan. Lebih ekstrim dapat dikatakan bahwa bukan hanya fakta yang telah dikalahkan oleh Citra, melainkan manusia itu sendiri tidak tahu lagi apakah dirinya merupakan fakta ataukah hanya sekadar Citra.

Citra dan Perempuan (kilasan kasus).

Tak dapat dimungkiri perempuan adalah salah satu sasaran dan medan utama dalam arus pencitraan dalam iklan. Berbagai telaah para pakar mengenai kapitalisme dan masyarakat konsumer menunjukkan bahwa perempuan adalah salah satu teks utama. Artinya, budaya konsumer cenderung identik dengan eksplorasi dan eksploitasi yang mengarah pada kaum perempuan, lebih spesifik, pada tubuh perempuan. Tubuh perempuan diolah, dibajak, dipotong-potong sedemikian rupa sebagai komoditas sekaligus sebagai penyerap dan konsumen utama.
Dan dalam beberapa hal, konsep baru mengenai kecantikan dalam budaya konsumer itu juga telah menyediakan berbagai pilihan citra yang semakin banyak sehingga membuka kemungkinan yang nyaris tak terbatas dalam membangun identitas baru mengenai eksistensi. Artinya, telah terbuka semacam proses demokratisasi atas citra diri kaum perempuan.

Dalam masyarakat tradisional (di Indonesia), perempuan cenderung tak memiliki banyak pilihan untuk merumuskan eksitensi dan citra dirinya karena masih terbelenggu oleh nilai-nilai normatif yang harus diterima secara sosio-kultural dan sosio-religius yang dianut secara doktriner. Ketika datang modernitas dan globalisasi acuan citra diri dalam masyarakat tradisional itu kemudian mengalami pelapukan sehingga citra lama secara niscaya lenyap dan kemudian citra baru yang disediakan oleh pasar siap menggantikannya.

Tapi justru pada titik inilah muncul paradoks: di satu pihak, perempuan bisa melepaskan diri diri dari belenggu tradisionalitas sembari mendapatkan kebebasan memilih citra, tapi di lain pihak, diam-diam dia telah menjadi korban dari ekspansi pasar. Perempuan adalah penguasa citra, terutama melalui tubuhnya, tapi pada saat yang sama sekaligus menjadi korban utamanya.

Sebagai contoh, dalam beberapa kasus, citra tentang kecantikan tubuh telah memaksa perempuan untuk melakukan kekerasan terhadap tubuh itu sendiri. Untuk menjadi cantik, perempuan dipaksa melakukan hal-hal yang kadang membuat tubuhnya sakit. Apalagi jika definisi cantik itu kemudian berubah demikian cepat, trend kecantikan terus berganti-ganti, mengikuti perubahan selera yang berlangsung di pusat-pusat citra di pusat mode, maka tubuh perempuan pun dipaksa terus menyesuaikan diri pula. Ditambah lagi dengan perkembangan teknologi kecantikan sebagai industri yang melaju dengan cepat, pada akhirnya telah memaksa tubuh perempuan terus berkejaran dengan perkembangan trend citra yang berlangsung.

Itulah contoh yang bagus dari cara kerja citra: yakni reproduksi: sesuatu yang hari ini trend, mungkin besok sudah ketinggalan zaman, sehingga musti dilakukan format ulang untuk memperbaharuinya terus menerus. Dan proses reproduksi itu kadang hanya menampilkan perubahan bentuk, bukan substansi; citra yang dianggap baru ternyata hanya sekadar pengulangan, duplikasi, bahkan juga daur-ulang dari citra lama. Tapi lantaran roda pasar terus berputar kian cepat maka daur-ulang itu musti dilakukan lagi dan lagi dan lagi.
Citra tentang kecantikan tubuh yang terus mereproduksi dirinya itu, kemudian diberondongkan secara rutin, terus menerus sehingga kemudian berubah menjadi cara untuk mendefinisikan diri secara stabil sehingga kemudian citra bukan hanya sebagai acuan tentang pembentukan ekistensi diri melainkan juga telah menjelma mitos tentang identitas yang dengannya perempuan menemukan cara untuk melakukan perluasan eksistensi barunya guna membuka diri terhadap berbagai konsep mengenai kecantikan tubuh yang berkembang di pusat-pusat industri citra di seluruh penjuru dunia.

Proses pembebasan diri hanya dapat dilakukan dengan cara melakukan konsumsi citra. Inilah cara kerja budaya konsumsi; yakni dengan memberi kebebasan memilih citra dengan cara menyerapnya, sehingga yang melakukan konsumsi akan menjadi tergantung pada proses reproduksi yang dilakukan oleh industri citra; dia tidak dapat lagi keluar dari jerat jaring-jaring mitos yang kian meluas itu. Artinya, pada titik ini perempuan hanya dapat memiliki tubuhnya dengan cara menyerap sebanyak mungkin citra yang ada.

Dan dalam hal ini, kemampuan tubuh perempuan berada jauh di atas kemampuan kaum laki-laki. Melalui citra kecantikannya, perempuan menempatkan dirinya sebagai penguasa dunia. Lebih tepat, dengan tubuhnya, perempuan telah berhasil menundukkan dunia yang telah jadi milik kaum laki-laki dengan kosmetik dan fashion sebagai pusat citra yang kelak menjadi unsur utama dalam pembentukan identitas.
Namun ketika identitas berpusat pada tubuh, dan makna tubuh bergantung pada citra, maka jika tubuh itu mulai melapuk, eksistensinya pun sebagai perempuan juga menuju tamat. Maka, sungguh tidak aneh jika citra yang dikembangkan oleh iklan yang menyangkut tubuh perempuan harus bertumpu pada satu hal: bagaimana mengawetkan keindahan dan kecantikan tubuh. Citra kecantikan perempuan dalam iklan harus mengacu pada bagaimana menciptakan cara-cara baru untuk memerangi penuaan, mencegah sirnanya keindahan tubuh dari gempuran waktu.

Dengan kata lain, tubuh perempuan memang sangat membutuhkan citra karena dengan begitu dia akan memiliki eksistensi secara penuh. Semboyannya adalah: “Aku cantik, maka aku ada”. Maka dapat dikatakan pula bahwa perempuan di zaman budaya konsumer ini akan mati jika berhenti menyerap citra. Tepat di sinilah terdapat paradoks kedua: perempuan dapat menjadi “segalanya” sekaligus bukan apa-apa; woman is everything sekaligus nothing.

Citra Perempuan dalam Iklan di Indonesia
Secara umum, citra perempuan dalam iklan yang ditayangkan media massa di Indonesia saat ini jelas menempatkan tubuh sebagai pusat makna. Sebagai gambaran bagaimana bergesernya pusat pencitraan menuju tubuh, lihatlah sebuah iklan yang pernah terbit pada surat kabar Star Weekly pada tahun 50-an mengenai bir, yakni iklan “Java Bier”. Ditilik dari mereknya terlihat upaya untuk melakukan “pribumisasi” dari produk yang datang dari Barat itu.

Dalam iklan ini terdapat gambaran kehidupan sebuah keluarga pribumi. Sang ayah duduk santai (mungkin sedang menikmati leisure time) di beranda rumah yang teduh dan nyaman mengenakan jas dan kopiah membaca surat kabar, sementara sang (perempuan) istri dengan pakaian kebaya (Jawa) datang menyuguhkan segelas bir. Dua anak laki-laki dan perempuan berdiri bermain boneka di dekat mereka. Di samping gambar tersebut terdapat gambar orang minum bir dengan kalimat;”Orang tegap dan koeat minoem Java Bier”. Di bawah gambar terdapat teks dengan judul “Satoe Bapa Jang Gagah”, diikuti uraian;”Sehat dan koeat, oelet bekerdja, telah membikin ia dapat mentjapai kedoedoekan jang baik, hingga dia poenja kaloewarga boleh bangga atas ini bapa jang gagah. Orang-orang jang begitoe koeat dan dikagoemi minoem selamanja: Java Bier”.

Yang luar biasa dari iklan ini adalah terdapat kesan atau citra bahwa seolah-olah bir sudah menjadi minuman sehari-hari seperti kopi, teh atau yang lain. Ini terlihat dari sikap sang istri yang menyuguhkan minuman tersebut dengan ekspresi santai. Sebuah citra tentang keluarga yang damai, dengan dua anak yang masih kecil, ditambah cara menikmati waktu senggang yang maju dan modern, dengan bir. Citra tersebut tidak ditampilkan dengan bahasa yang rumit. Kekuatan pesan antara teks tulisan dan ilustrasi relatif seimbang dan saling menunjang. Selanjutnya, citra yang tidak memungkinkan ditampilkan lewat kata-kata, yang jika harus diuraikan akan terlalu panjang dan bertele-tele, diambil alih oleh ilustrasi. Proposisi dalam teks tulisan juga sangat koheren: bahwa bapak yang sehat dan kuat, ulet bekerja, pada akhirnya akan mendapat kedudukan yang layak, patut dihormati dan dikagumi. Orang-orang semacam inilah yang minum “Java Bier”.
Pada iklan tersebut rupanya citra tentang “kejantanan” masih dinyatakan secara implisit alias tidak terang-terangan. Pusat citra adalah sang suami yang gagah karena minum bir. Sementara perempuan dicitrakan sebagai istri yang baik karena memahami citra kegagahan itu dengan menyuguhkan bir. Di situ terdapat citra tradisional mengenai perempuan dan laki-laki. Sebagai bagian budaya maskulin, budaya macho, iklan tersebut merumuskan konsep kejantanan dalam konteks yang lebih luas, yakni dalam kehidupan keluarga. Dalam iklan tersebut keperkasaan dicitrakan dengan keberhasilan sang bapak yang mencapai kedudukan bagus dalam masyarakat dan dalam pekerjaannya sehingga bisa menjadi kepala keluarga yang sukses. Di situ, tubuh belum memainkan peran sentral dari pencitraan.

Bandingkan dengan iklan bir zaman sekarang yang secara terang-terangan mengekplorasi citra “kejantanan” dan “keseksian” sebagai pusat citra, yakni dengan menggunakan citra perempuan melalui tubuhnya dalam konotasi seksual. Perempuan dalam iklan bir zaman sekarang dicitrakan sebagai bentuk libidinal alias makna dalam hubungan laki-laki perempuan dalam bentuk pesona seksual.
Contoh lain, pada tahun 1941 dalam Almanak Bale Poestaka (Volksalmanak Djawi) terbit iklan sabun mandi Lifebuoy. Seperti iklan “Java Bier”, iklan ini juga menampilkan citra laki-laki “perkasa” dengan aksentuasi yang sedikit karikatural. Ilustrasi iklan tersebut menggambarkan seorang laki-laki berjas, bersarung dan lagi-lagi memakai kopiah, duduk diapit dua perempuan dengan rambut diikat di belakang memakai baju “modern” dengan kain panjang khas “pribumi”. Si laki-laki tersenyum bangga, percaya diri dan sedikit sombong menghisap sebatang rokok. Gadis yang satu menyalakan api untuk si laki-laki, sedangkan gadis yang satunya menyodori segelas minuman, sementara ada dua laki-laki di belakangnya kelihatan melotot terkagum-kagum. Di bawahnya terdapat uraian;”Kanapa si Amat ditjintai oleh gadis-gadis? Kanapa gadis-gadis soeka melajankannja? Karena ia tjantik parasnja…Karena ia haroem baoenja…Sebab…ia senantiasa mandi dengan Lifebuoy”.

Dalam iklan tersebut, pusat pencitraan adalah laki-laki, atau lebih tepatnya tubuh laki-laki sebagai simbol kegagahan. Pusat pencitraan tidak terletak pada tubuh perempuan. Bandingkan dengan iklan sabun mandi Lifebuoy zaman sekarang yang menyandarkan acuan citra pada kondisi ideal dari sebuah keluarga. Atau bandingkan dengan mayoritas iklan sabun di televisi kita sekarang dimana hampir semuanya menempatkan tubuh perempuan sebagai pusat pencitraan.

Dari dua contoh di atas yang kemudian kita bandingkan dengan iklan zaman sekarang, satu hal dapat ditandai, bahwa tubuh perempuan telah menggeser tubuh laki-laki dalam proses pencitraan sebuah produk. Pertanyaannya adalah: jika pada tingkatan bentuk (yakni tubuh sebagai pusat pencitraan) telah mengalami pergeseran, apakah pada tingkatan substansi juga telah mengalami perubahan?
Pada iklan “Java Bier” dan “Lifebuoy” di atas menunjukkan citra hubungan antara laki-laki dan perempuan dalam hubungan yang kurang lebih patriarkhis. Hubungan patriarkhis adalah hubungan yang menegaskan perbedaan posisi antara dua pihak: yang satu merupakan pusat yang lain pinggiran, yang satu lebih tinggi yang lain lebih rendah, yang satu lebih kuat yang lain lemah. Dalam konteks ini, sang pusat yang tinggi dan kuat, adalah kaum laki-laki, sementara kaum perempuan adalah sebagai pelengkap belaka. Laki-laki adalah sang patriarch, sementara kaum perempuan adalah sang “hamba”. Di situ ada garis tegas perbedaan gender antara laki-laki dan perempuan. Mula-mula, perbedaan itu ditarik dari sumber genetis: bahwa secara biologis antara laki-laki dan perempuan, secara fundamental memang berbeda. Tapi, kategori ini kemudian diturunkan ke bumi, ke dalam kancah kehidupan historis, dalam budaya dan sistem sosial. Karena secara biologis berbeda, maka secara sosial-budaya dianggap niscaya berbeda belaka.

Dua kategori yang berbeda konteks, tiba-tiba dirancukan. Konteks biologis disamakan dengan konteks sosial-budaya. Hal itu kemudian juga dimantapkan dan dilegitimasi oleh nilai-nilai yang diproduksi oleh budaya masyarakat secara terus menerus. Maka, perempuan didefiniskan secara niscaya bahwa dia lemah, emosional, tidak rasional, sensitif, tidak mandiri, dan berbagai kategori lain yang mengacu pada stereotype negatif. Perempuan adalah makhluk kedua, semacam perhiasan atau bayang-bayang dan ekor kaum laki-laki. Bahkan teolog besar seperti Thomas Aquinas pun berfatwa bahwa perempuan adalah “makhluk yang belum sempurna”. Tempatnya pun ditentukan: di dapur, mengurus anak, memasak, ngerumpi, di atas ranjang dan bukan di kancah politik, ekonomi, pemikiran dan seni. Tempat perempuan adalah di wilayah domestik, karena wilayah publik adalah hak laki-laki.

Tentu, sejarah telah telanjur milik kaum laki-laki karena mereka yang menentukan aturan, memproduksi nilai-nilai moral tentang yang salah dan benar, menyusun penafsiran atas norma, dan melestarikannya dengan kekuasaannya di wilayah publik. Kebudayaaan pun cenderung mewakili kepentingan laki-laki. Hal itu diperkuat dengan kenyataan bahwa bahasa, simbol, benda-benda, warna, juga memiliki jenis kelamin. Walhasil, dalam kebudayaan yang maskulin tersebut, tanpa disadari, kaum perempuan pun kadang justru memperkuat dengan berpikir dan bertindak secara patriarkhis. Citra maskulin menyebar di mana-mana, ditelan secara halus melalui sistem budaya dan doktrin agama.

Maka, ketika kebudayaan dalam kehidupan sehari-hari menjadi patriarkhis, produk-produk citra pun akan mengikuti pola yang sama. Dua contoh iklan di atas menunjukkan betapa perempuan memiliki kewajiban “mengabdi” kepada laki-laki. Pusat kehidupan adalah kaum laki-laki. Ketika perempuan mempercantik diri, mengelola rumah dengan baik, tujuannya adalah “memuaskan” laki-laki. Gadis-gadis soeka melajankan Si Amat, karena Si Amat adalah tujuan citra, apalagi setelah menggunakan sabun Lifebuoy.

Hal itu mirip iklan Hemaviton di televisi kita yang menggambarkan bagaimana seorang perempuan yang wajib mengonsumsi kapsul itu jika ingin memuaskan pasangannya. Atau iklan obat suplemen yang menampilkan tokoh laki-laki yang perkasa di atas ranjang, tapi bukan untuk “mengabdi” kepada istri atau pacar, melainkan untuk mengukuhkan “kelaki-lakiannya”. Citranya berbeda, tapi substansinya tetap: bahwa laki-laki adalah pusat makna. Ketika obat itu dicitrakan dengan tubuh perempuan, maka maknanya adalah untuk “memuaskan” sang patriarch, tapi ketika diberlakukan pada tubuh laki-laki, maknanya adalah penegasan keperkasaan si patriarch sehingga para “hamba” harus memujanya. Dengan kata lain, laki-laki adalah ordinan, dan perempuan sub-ordinan dan hubungan di antara keduanya merupakan hubungan dominatif.

Hampir semua iklan di Indonesia secara mencolok atau samar-samar, menampilkan hubungan gender yang dominatif. Sebagai contoh ekstrim adalah iklan layanan masyarakat tentang pemerkosaan yang dimuat di media cetak beberapa tahun silam dan sempat menimbulkan heboh. Iklan itu menampilkan gambar sepasang kaki seksi perempuan dengan rok mini ditambah keterangan yang bermakna kira-kira: bagaimana mungkin perkosaan akan berkurang jika kaum perempuannya justru yang minta diperkosa?
Iklan itu menunjukkan cara pikir patriarkhis secara gamblang dan sempurna: bahwa kesalahan ada di pihak perempuan. Lebih tepat, dalam kasus pemerkosaan, yang salah adalah jenis kelamin. Hal itu kian jelas: seandainya yang diperkosa adalah laki-laki, maka iklannya akan berbunyi: bagaimana mungkin pemerkosaan bisa berkurang jika tikus dalam celana anda dibiarkan menjadi anjing laut?
Artinya, pihak sub-ordinan adalah sumber problem. Jika yang ordinan kaum laki-laki, maka yang salah adalah kaum perempuan, begitu juga sebaliknya. Padahal, ada sebab yang lebih substansial, bahwa problem ada pada nilai-nilai yang telah mapan dalam sistem sosial-budayanya. Baik laki-laki maupun perempuan sama-sama punya andil dalam memapankan sistem nilai tersebut. (Boleh jadi, tidak sedikit kaum perempuan yang secara tidak sadar berpikir dan bertindak lebih patriarkhis ketimbang laki-laki).

Tentu ada beberapa iklan yang mencoba membalikkan cara pikir maskulinisme tersebut. Contohnya adalah iklan AXE versi di dalam lift, yang menceritakan seorang perempuan mengacak-acak anak tikus sang laki-laki, sehingga begitu keluar dari lift, si patriarch sudah megap-megap dan babak belur. Semuanya akibat kehebatan AXE, tapi jelas bahwa dalam konteks itu, yang perkasa adalah kaum perempuannya.

Penutup
Secara umum, citra perempuan dalam iklan kita dapat dikatakan mengalami perkembangan dalam hal elaborasi bentuk, detail teknis, tentu dibantu oleh kemajuan teknologi, sehingga jauh lebih canggih ketimbang iklan di Lifebuoy di Star Weekly dan Java Bier di atas. Iklan kita sekarang tampak lebih fasih, mengilap dan menyilaukan mata, tapi cara pikirnya belum banyak berubah: patriarkhis-tradisional.
Selain hal tersebut, sebagaimana telah dikatakan berkali-kali: bahwa tubuh perempuan telah menjadi pusat pencitraan. Iklan kita jelas menampakkan kecenderungan pengolahan tubuh sebagai pusat makna, pusat identitas, juga pusat eksistensi perempuan. Lebih spesifik: harkat dan martabat perempuan ditentukan oleh makna sensualitasnya. Dalam iklan kita, seks cenderung direduksi menjadi aktivitas genital. Tak ada tempat buat eksplorasi makna yang mencoba melihat seks dalam perspektif yang lebih luas semisal dalam konteks kuasa, budaya, politik, agama, filsafat, dan seni.
Dari uraian di atas maka secara sekilas dapat dikatakan bahwa citra perempuan dalam iklan kita dapat disederhanakan menjadi sekurang-kurangnya tiga kategori.

Pertama, upaya pencitraan tubuh dalam konotasi yang seolah-olah mengacu pada makna elegan, bermartabat dan berkelas dan mengandung unsur-unsur serebral (mind). Contohnya adalah iklan klasik sabun Lux yang menampilkan selebritis perempuan terpilih. Tentu, martabat dan berkelas di sini mengacu pada keindahan tubuh yang tidak semata-mata libidinal daging mentah melainkan citra kecantikan sebagai prosesi “kenaikan” kelas bagi penggunanya. Jika anda memakai Lux maka anda yang berada di kelas bawah bisa naik ke lapisan yang lebih tinggi, seperti artis yang telah naik kelas karena tubuhnya, syukur-syukur juga karena otaknya.

Kedua, adalah jenis iklan yang radikal semacam iklan AXE versi di dalam lift. Di sini terjadi pembalikan posisi gender sehingga pusat makna berada di pihak sub-ordinan yang berubah menjadi ordinan. Yang terjadi adalah bergantinya kelamin sang patriarch. Dari sisi logika hubungan gender, iklan itu sama persis dengan iklan mengenai pemerkosaan. Jika pada iklan pemerkosan itu pihak ordinan adalah kaum laki-laki dan sub-ordinannya adalah kaum perempuan, iklan AXE justru posisi tersebut dibalikkan.

Jika iklan AXE versi di dalam lift adalah wakil dari nuansa pemikiran feminisme oposisi biner dalam konteks gender, iklan pemerkosan itu merupakan perwujudan cara pikir mayoritas masyarakat kita yang patriarkhis. Dengan sangat sempurna iklan pemerkosaan itu mewakili pandangan hidup (weltanscauung) yang mapan dalam budaya kita. Dan di alam pemikiran tradisional masyarakat kita yang patriarkhis itu, pembalikan jenis AXE versi di dalam lift terasa menyentak dan menonjok sehingga jadi citra yang subversif, menjadi sebuah iklan yang benar-benar menohok dan terasa “nendang” kesadaran budaya maskulin.

Ketiga, adalah jenis iklan yang mencitrakan perempuan sebagai tubuh yang cenderung banal, sebagai daging yang lezat, harum dan nikmat. Jenis iklan inilah yang paling banyak kita jumpai; di mana perempuan dicitrakan sebagai perhiasan, aksesori yang wajib ada guna mempercantik sebuah produk. Jika sebuah produk hendak dipoles, sebuah benda ingin bersolek, maka kosmetika yang paling handal adalah tubuh perempuan. Dalam iklan jenis ini, tubuh perempuan ditransformasikan menjadi “benda”, bukan sebuah tubuh yang mengandung berbagai dimensi. Tubuh perempuan adalah sebuah pajangan yang membuat mata jadi segar, gurih, merayu-rayu hingga (kaum lelaki) tidak mengantuk.

Kesimpulannya, selama kurang lebih lima puluh tahun, dari contoh iklan Java Bier hingga iklan pemerkosaan dan sabun mandi, citra citra perempuan secara substansial tidak mengalami banyak perubahan, yakni tetap berada dalam cara pikir patriarkhis. Kemajuan, pencanggihan, elaborasi, juga eksplorasi hanya berlangsung pada bentuknya, bukan pada substansinya. Maka dapat dikatakan bahwa citra perempuan dalam iklan kita adalah: substansi lama, bentuk baru. Meminjam bahasa politik Ben Anderson: Old state, new society, bajunya modern tapi otaknya masih tradisional.
***

Arus PHK di Perusahan Teknologi Tak Terbendung

•1 Februari 2009 • Tinggalkan sebuah Komentar

Jakarta – Berbagai perusahaan teknologi kian tercekik oleh jeratan krisis ekonomi global. Menyusul vendor-vendor raksasa lainnya, kini giliran Toshiba, Hitachi, dan NEC bersiap melakukan PHK untuk menghemat ongkos perusahaan.

Dikutip detikINET dari TechRadar, Minggu (1/2/2009), langkah tersebut terpaksa dilakukan seiring buruknya performa finansial mereka. Menurunnya daya beli konsumen rupanya benar-benar merugikan perusahaan teknologi tersebut sehingga produknya kurang laris di pasaran.

Hitachi mengatakan bahwa kemungkinan, mereka bakal memangkas sampai 7000 karyawannya. Adapun Toshiba mengumumkan berencana memberhentikan sekitar 5000 pekerja part time.

Sementara perusahaan NEC sepertinya paling parah diterjang krisis. Sebab, mereka berniat bakal memangkas sejumlah 20.000 pekerja. Jumlah tersebut berarti sekitar 7 persen dari total karyawan mereka.

Pengaruh Globalisasi

•1 Februari 2009 • Tinggalkan sebuah Komentar

Pengaruh Globalisasi Terhadap
Nilai-Nilai Nasionalisme

• Globalisasi adalah suatu proses tatanan masyarakat yang mendunia dan tidak mengenal batas wilayah.

• Globalisasi pada hakikatnya adalah suatu proses dari gagasan yang dimunculkan, kemudian ditawarkan untuk diikuti oleh bangsa lain yang akhirnya sampai pada suatu titik kesepakatan bersama dan menjadi pedoman bersama bagi bangsa- bangsa di seluruh dunia. (Menurut Edison A. Jamli dkk.Kewarganegaraan.2005)

Menurut pendapat Krsna (Pengaruh Globalisasi Terhadap Pluralisme Kebudayaan Manusia di Negara Berkembang. internet. public jurnal.september 2005). Sebagai proses, globalisasi berlangsung melalui dua dimensi dalam interaksi antar bangsa, yaitu dimensi ruang dan waktu. Ruang makin dipersempit dan waktu makin dipersingkat dalam interaksi dan komunikasi pada skala dunia. Globalisasi berlangsung di semua bidang kehidupan seperti bidang ideologi, politik, ekonomi, sosial budaya, pertahanan keamanan dan lain- lain. Teknologi informasi dan komunikasi adalah faktor pendukung utama dalam globalisasi. Dewasa ini, perkembangan teknologi begitu cepat sehingga segala informasi dengan berbagai bentuk dan kepentingan dapat tersebar luas ke seluruh dunia.Oleh karena itu globalisasi tidak dapat kita hindari kehadirannya.

Kehadiran globalisasi tentunya membawa pengaruh bagi kehidupan suatu negara termasuk Indonesia. Pengaruh tersebut meliputi dua sisi yaitu pengaruh positif dan pengaruh negatif. Pengaruh globalisasi di berbagai bidang kehidupan seperti kehidupan politik, ekonomi, ideologi, sosial budaya dan lain- lain akan mempengaruhi nilai- nilai nasionalisme terhadap bangsa.

• Pengaruh positif globalisasi terhadap nilai- nilai nasionalisme

1. Dilihat dari globalisasi politik, pemerintahan dijalankan secara terbuka dan demokratis. Karena pemerintahan adalah bagian dari suatu negara, jika pemerintahan djalankan secara jujur, bersih dan dinamis tentunya akan mendapat tanggapan positif dari rakyat. Tanggapan positif tersebut berupa rasa nasionalisme terhadap negara menjadi meningkat.
2. Dari aspek globalisasi ekonomi, terbukanya pasar internasional, meningkatkan kesempatan kerja dan meningkatkan devisa negara. Dengan adanya hal tersebut akan meningkatkan kehidupan ekonomi bangsa yang menunjang kehidupan nasional bangsa.
3. Dari globalisasi sosial budaya kita dapat meniru pola berpikir yang baik seperti etos kerja yang tinggi dan disiplin dan Iptek dari bangsa lain yang sudah maju untuk meningkatkan kemajuan bangsa yang pada akhirnya memajukan bangsa dan akan mempertebal rasa nasionalisme kita terhadap bangsa.
• Pengaruh negatif globalisasi terhadap nilai-nilai nasionalisme
1. Globalisasi mampu meyakinkan masyarakat Indonesia bahwa liberalisme dapat membawa kemajuan dan kemakmuran. Sehingga tidak menutup kemungkinan berubah arah dari ideologi Pancasila ke ideologi liberalisme. Jika hal tesebut terjadi akibatnya rasa nasionalisme bangsa akan hilang
2. Dari globalisasi aspek ekonomi, hilangnya rasa cinta terhadap produk dalam negeri karena banyaknya produk luar negeri (seperti Mc Donald, Coca Cola, Pizza Hut,dll.) membanjiri di Indonesia. Dengan hilangnya rasa cinta terhadap produk dalam negeri menunjukan gejala berkurangnya rasa nasionalisme masyarakat kita terhadap bangsa Indonesia.
3. Mayarakat kita khususnya anak muda banyak yang lupa akan identitas diri sebagai bangsa Indonesia, karena gaya hidupnya cenderung meniru budaya barat yang oleh masyarakat dunia dianggap sebagai kiblat.
4. Mengakibatkan adanya kesenjangan sosial yang tajam antara yang kaya dan miskin, karena adanya persaingan bebas dalam globalisasi ekonomi. Hal tersebut dapat menimbulkan pertentangan antara yang kaya dan miskin yang dapat mengganggu kehidupan nasional bangsa.
5. Munculnya sikap individualisme yang menimbulkan ketidakpedulian antarperilaku sesama warga. Dengan adanya individualisme maka orang tidak akan peduli dengan kehidupan bangsa.
Pengaruh-pengaruh di atas memang tidak secara langsung berpengaruh terhadap nasionalisme. Akan tetapi secara keseluruhan dapat menimbulkan rasa nasionalisme terhadap bangsa menjadi berkurang atau hilang. Sebab globalisasi mampu membuka cakrawala masyarakat secara global. Apa yang di luar negeri dianggap baik memberi aspirasi kepada masyarakat kita untuk diterapkan di negara kita. Jika terjadi maka akan menimbulkan dilematis. Bila dipenuhi belum tentu sesuai di Indonesia. Bila tidak dipenuhi akan dianggap tidak aspiratif dan dapat bertindak anarkis sehingga mengganggu stabilitas nasional, ketahanan nasional bahkan persatuan dan kesatuan bangsa.

• Pengaruh Globalisasi Terhadap Nilai Nasionalisme di Kalangan Generasi Muda
Arus globalisasi begitu cepat merasuk ke dalam masyarakat terutama di kalangan muda. Pengaruh globalisasi terhadap anak muda juga begitu kuat. Pengaruh globalisasi tersebut telah membuat banyak anak muda kita kehilangan kepribadian diri sebagai bangsa Indonesia. Hal ini ditunjukkan dengan gejala- gejala yang muncul dalam kehidupan sehari- hari anak muda sekarang.
Dari cara berpakaian banyak remaja- remaja kita yang berdandan seperti selebritis yang cenderung ke budaya Barat. Mereka menggunakan pakaian yang minim bahan yang memperlihatkan bagian tubuh yang seharusnya tidak kelihatan. Pada hal cara berpakaian tersebut jelas- jelas tidak sesuai dengan kebudayaan kita. Tak ketinggalan gaya rambut mereka dicat beraneka warna. Pendek kata orang lebih suka jika menjadi orang lain dengan cara menutupi identitasnya. Tidak banyak remaja yang mau melestarikan budaya bangsa dengan mengenakan pakaian yang sopan sesuai dengan kepribadian bangsa.
Teknologi internet merupakan teknologi yang memberikan informasi tanpa batas dan dapat diakses oleh siapa saja. Apa lagi bagi anak muda internet sudah menjadi santapan mereka sehari- hari. Jika digunakan secara semestinya tentu kita memperoleh manfaat yang berguna. Tetapi jika tidak, kita akan mendapat kerugian. Dan sekarang ini, banyak pelajar dan mahasiswa yang menggunakan tidak semestinya. Misal untuk membuka situs-situs porno. Bukan hanya internet saja, ada lagi pegangan wajib mereka yaitu handphone. Rasa sosial terhadap masyarakat menjadi tidak ada karena mereka lebih memilih sibuk dengan menggunakan handphone.
Dilihat dari sikap, banyak anak muda yang tingkah lakunya tidak kenal sopan santun dan cenderung cuek tidak ada rasa peduli terhadap lingkungan. Karena globalisasi menganut kebebasan dan keterbukaan sehingga mereka bertindak sesuka hati mereka. Contoh riilnya adanya geng motor anak muda yang melakukan tindakan kekerasan yang menganggu ketentraman dan kenyamanan masyarakat.
Jika pengaruh-pengaruh di atas dibiarkan, mau apa jadinya genersi muda tersebut? Moral generasi bangsa menjadi rusak, timbul tindakan anarkis antara golongan muda. Hubungannya dengan nilai nasionalisme akan berkurang karena tidak ada rasa cinta terhadap budaya bangsa sendiri dan rasa peduli terhadap masyarakat. Padahal generasi muda adalah penerus masa depan bangsa. Apa akibatnya jika penerus bangsa tidak memiliki rasa nasionalisme?
Berdasarkan analisa dan uraian di atas pengaruh negatif globalisasi lebih banyak daripada pengaruh positifnya. Oleh karena itu diperlukan langkah untuk mengantisipasi pengaruh negatif globalisasi terhadap nilai nasionalisme.
• Antisipasi Pengaruh Negatif Globalisasi Terhadap Nilai Nasionalisme
Langkah- langkah untuk mengantisipasi dampak negatif globalisasi terhadap nilai- nilai nasionalisme antara lain yaitu :
1. Menumbuhkan semangat nasionalisme yang tangguh, misal semangat mencintai produk dalam negeri.
2. Menanamkan dan mengamalkan nilai- nilai Pancasila dengan sebaik- baiknya.
3. Menanamkan dan melaksanakan ajaran agama dengan sebaik- baiknya.
4. Mewujudkan supremasi hukum, menerapkan dan menegakkan hukum dalam arti sebenar- benarnya dan seadil- adilnya.
5. Selektif terhadap pengaruh globalisasi di bidang politik, ideologi, ekonomi, sosial budaya bangsa.
Dengan adanya langkah- langkah antisipasi tersebut diharapkan mampu menangkis pengaruh globalisasi yang dapat mengubah nilai nasionalisme terhadap bangsa. Sehingga kita tidak akan kehilangan kepribadian bangsa.

Perkembangan Sosial Dan Kebudayaan Indonesia

•1 Februari 2009 • Tinggalkan sebuah Komentar

Setiap kehidupan di dunia ini tergantung pada kemampuan beradaptasi terhadap lingkungannya dalam arti luas. Akan tetapi berbeda dengan kehidupan lainnya, manusia membina hubungan dengan lingkungannya secara aktif. Manusia tidak sekedar mengandalkan hidup mereka pada kemurahan lingkungan hidupnya seperti ketika Adam dan Hawa hidup di Taman Firdaus. Dalam memenuhi kebutuhan hidupnya dengan mengelola lingkungan dan mengolah sumberdaya secara aktif sesuai dengan seleranya. Karena itulah manusia mengembangkan kebiasaan yang melembaga dalam struktur sosial dan kebudayaan mereka. Karena kemampuannya beradaptasi secara aktif itu pula, manusia berhasil menempatkan diri sebagai makhluk yang tertinggi derajatnya di muka bumi dan paling luas persebarannya memenuhi dunia.
Di lain pihak, kemampuan manusia membina hubungan dengan lingkungannya secara aktif itu telah membuka peluang bagi pengembangan berbagai bentuk organisasi dan kebudayaan menuju peradaban. Dinamika sosial itu telah mewujudkan aneka ragam masyarakat dan kebudayaan dunia, baik sebagai perwujudan adaptasi kelompok sosial terhadap lingkungan setempat maupun karena kecepatan perkembangannya.

MASYARAKAT DAN KEBUDAYAAN INDONESIA
Dinamika sosial dan kebudayaan itu, tidak terkecuali melanda masyarakat Indonesia, walaupun luas spektrum dan kecepatannya berbeda-beda. Demikian pula masyarakat dan kebudayaan Indonesia pernah berkembang dengan pesatnya di masa lampau, walaupun perkembangannya dewasa ini agak tertinggal apabila dibandingkan dengan perkembangan di negeri maju lainnya. Betapapun, masyarakat dan kebudayaan Indonesia yang beranekaragam itu tidak pernah mengalami kemandegan sebagai perwujudan tanggapan aktif masyarakat terhadap tantangan yang timbul akibat perubahan lingkungan dalam arti luas maupun pergantian generasi.
Ada sejumlah kekuatan yang mendorong terjadinya perkembangan sosial budaya masyarakat Indonesia. Secara kategorikal ada 2 kekuatan yang memicu perubahan sosial, Petama, adalah kekuatan dari dalam masyarakat sendiri (internal factor), seperti pergantian generasi dan berbagai penemuan dan rekayasa setempat. Kedua, adalah kekuatan dari luar masyarakat (external factor), seperti pengaruh kontak-kontak antar budaya (culture contact) secara langsung maupun persebaran (unsur) kebudayaan serta perubahan lingkungan hidup yang pada gilirannya dapat memacu perkembangan sosial dan kebudayaan masyarakat yang harus menata kembali kehidupan mereka .
Betapapun cepat atau lambatnya perkembangan sosial budaya yang melanda, dan factor apapun penyebabnya, setiap perubahan yang terjadi akan menimbulkan reaksi pro dan kontra terhadap masyarakat atau bangsa yang bersangkutan. Besar kecilnya reaksi pro dan kontra itu dapat mengancam kemapanan dan bahkan dapat pula menimbulkan disintegrasi sosial terutama dalam masyarakat majemuk dengan multi kultur seperti Indonesia.

PERKEMBANGAN SOSIAL DAN KEBUDAYAAN DEWASA INI
Masyarakat Indonesia dewasa ini sedang mengalami masa pancaroba yang amat dahsyat sebagai akibat tuntutan reformasi secara menyeluruh. Sedang tuntutan reformasi itu berpangkal pada kegiatan pembangunan nasional yang menerapkan teknologi maju untuk mempercepat pelaksanaannya. Di lain pihak, tanpa disadari, penerapan teknologi maju itu menuntut acuan nilai-nilai budaya, norma-norma sosial dan orientasi baru. Tidaklah mengherankan apabila masyarakat Indonesia yang majemuk dengan multi kulturalnya itu seolah-olah mengalami kelimbungan dalam menata kembali tatanan sosial, politik dan kebudayaan dewasa ini.

Penerapan teknologi maju
Penerapan teknologi maju untuk mempercepat pebangunan nasional selama 32 tahun yang lalu telah menuntut pengembangan perangkat nilai budaya, norma sosial disamping ketrampilan dan keahlian tenagakerja dengn sikap mental yang mendukungnya. Penerapan teknologi maju yang mahal biayanya itu memerlukan penanaman modal yang besar (intensive capital investment); Modal yang besar itu harus dikelola secara professional (management) agar dapat mendatangkan keuntungan materi seoptimal mungkin; Karena itu juga memerlukan tenagakerja yang berketrampilan dan professional dengan orientasi senantiasa mengejar keberhasilan (achievement orientation).
Tanpa disadari, kenyataan tersebut, telah memacu perkembangan tatanan sosial di segenap sector kehidupan yang pada gilirannya telah menimbulkan berbagai reaksi pro dan kontra di kalangan masyarakat. Dalam proses perkembangan sosial budaya itu, biasanya hanya mereka yang mempunyai berbagai keunggulan sosial-politik, ekonomi dan teknologi yang akan keluar sebagai pemenang dalam persaingan bebas. Akibatnya mereka yang tidak siap akan tergusur dan semakin terpuruk hidupnya, dan memperlebar serta memperdalam kesenjangan sosial yang pada gilirannya dapat menimbulkan kecemburuan sosial yang memperbesar potensi konflik sosial.dalam masyarakat majemuk dengan multi kulturnya.

Keterbatasan lingkungan (environment scarcity)
Penerapan teknologi maju yang mahal biayanya cenderung bersifat exploitative dan expansif dalam pelaksanaannya. Untuk mengejar keuntungan materi seoptimal mungkin, mesin-mesin berat yang mahal harganya dan beaya perawatannya, mendorong pengusaha untuk menggunakannya secara intensif tanpa mengenal waktu. Pembabatan dhutan secara besar-besaran tanpa mengenal waktu siang dan malam, demikian juga mesin pabrik harus bekerja terus menerus dan mengoah bahan mentah menjadi barang jadi yang siap di lempar ke pasar.
Pemenuhan bahan mentah yang diperlukan telah menimbulkan tekanan pada lingkungan yang pada gilirannya mengancam kehidupan penduduk yang dilahirkan, dibesarkan dan mengembangkan kehidupan di lingkungan yang di explotasi secara besar-besaran.
Di samping itu penerapan teknologi maju juga cenderung tidak mengenal batas lingkungan geografik, sosial dan kebudayaan maupun politik. Di mana ada sumber daya alam yang diperlukan untuk memperlancar kegiatan industri yang ditopang dengan peralatan modern, kesana pula mesin-mesin modern didatangkan dan digunakan tanpa memperhatikan kearifan lingkungan (ecological wisdom) penduduk setempat.
Ketimpangan sosial-budaya antar penduduk pedesaan dan perkotaan ini pada gilirannya juga menjadi salah satu pemicu perkembangan norma-norma sosial dan nilai-nilai budaya yang befungsi sebagai pedoman dan kerangka acuan penduduk perdesaan yang harus nmampu memperluas jaringan sosial secara menguntungkan. Apa yang seringkali dilupakan orang adalah lumpuhnya pranata sosial lama sehingga penduduk seolah-olahkehilangan pedoman dalam melakukan kegiatan. Kalaupun pranata sosial itu masih ada, namun tidak berfungsi lagi dalam menata kehidupan pendudduk sehari-hari. Seolah-olah terah terjadi kelumpuhan sosial seperti kasus lumpur panas Sidoarjo, pembalakan liar oleh orang kota, penyitaan kayu tebangan tanpa alas an hokum yang jelas, penguasaan lahan oleh mereka yang tidak berhak.
Kelumpuhan sosial itu telah menimbulkan konflik sosial yang berkepanjangan dan berlanjut dengan pertikaian yang disertai kekerasan ataupun amuk.

PERATURAN DAN PERUNDANG-UNDANGAN
Sejumlah peraturan dan perundang-undangan diterbitkan pemerintah untuk melindungi hak dan kewajiban segenap warganegara, seperti UU Perkawinan monogamous, pengakuan HAM dan pengakuan kesetaraan gender serta pengukuhan “personal, individual ownership” atas kekayaan keluarga mulai berlaku dan mempengaruhi sikap mental penduduk dengan segala akibatnya.

PENDIDIKAN
Kekuatan perubahan yang sangat kuat, akan tetapi tidak disadari oleh kebanyakan orang adalah pendidikan. Walaupun pendidikan di manapun merupakan lembaga ssosial yang terutama berfungsi untuk mempersiapkan anggotanya menjadi warga yang trampil dan bertanggung jawab dengan penanaman dan pengukuhan norma sosial dan nilai-nilai budaya yang berlaku, namun akibat sampingannya adalah membuka cakrawala dan keinginan tahu peserta didik. Oleh karena itulah pendidikan dapat menjadi kekuatan perubahan sosial yang amat besar karena menumbuhkan kreativitas peserta didik untuk mengembangkan pembaharuan (innovation).
Di samping kreativitas inovatif yang membekali peserta didik, keberhasilan pendidikan menghantar seseorang untuk meniti jenjang kerja membuka peluang bagi mobilitas sosial yang bersangkutan. Pada gilirannya mobilitas sosial untuk mempengaruhi pola-pola interaksi sosial atau struktur sosial yang berlaku. Prinsip senioritas tidak terbatas pada usia, melainkan juga senioritas pendidikan dan jabatan yang diberlakukan dalam menata hubungan sosial dalam masyarakat.
Dengan demikian pendidikan sekolah sebagai unsur kekuatan perubahan yang diperkenalkan dari luar, pada gilirannya menjadi kekuatan perubahan dari dalam masyarakat yang amat potensial. Bahkan dalam masyarakat majemuk Indonesia dengan multi kulturnya, pendidikan mempunyai fungsi ganda sebagai sarana integrasi bangsa yang menanamkan saling pengertian dan penghormatan terhadap sesama warganegara tanpa membedakan asal-usul dan latar belakang sosial-budaya, kesukubangsaan, keagamaan, kedaerahan dan rasial. Pendidikan sekolah juga dapat berfungsi sebagai peredam potensi konflik dalam masyarakat majemuk dengan multi kulurnya, apabila diselenggarakan dengan benar dan secara berkesinambungan.
Di samping pendidikan, penegakan hukum diperlukan untuk menjain keadilan sosial dan demokratisasi kehidupan berbangsa dalam era reformasi yang memicu perlembangan sosial-budaya dewasa ini. Kebanyakan orang tidak menyadari dampak sosial reformasi, walaupun mereka dengan lantangnya menuntut penataan kembali kehidupan bermasyarakat dan bernegara. Sesungguhnya reformasi mengandung muatan perubahan sosial-budaya yang harus diantisipasi dengan kesiapan masyarakat untuk menerima pembaharuan yang seringkali menimbulkan ketidak pastian dalam prosesnya.
Tanpa penegakan hukum secara transparan dan akuntabel, perkembangan sosial-budaya di Indonesia akan menghasilkan bencana sosial yang lebih parah, karena hilangnya kepercayaan masyarakat akan mendorong mereka untuk bertindak sendiri sebagaimana nampak gejala awalnya dewasa ini. Lebih berbahaya lagi kalau gerakan sosial itu diwarnai kepercayaan keagamaan, seperti penatian datangnya ratu adil dan gerakan pensucian (purification) yang mengharamkan segala pembaharuan yang dianggap sebagai “biang” kekacauan.
Betapaun masyarakat harus siap menghadapi perubahan sosial budaya yang diniati dan mulai dilaksanakan dengan reformasi yang mengandung makna perkembangan ke arah perbaikan tatanan kehidupan bermasyarakat dan bernegara.